JAKARTA, KOMPAS.com - Bahan bakar alternatif terbarukan
biosolar atau biodiesel berbahan baku minyak sawit saat ini termasuk
paling memiliki peluang dikembangkan. Selain teknologinya mudah dan
sudah dikembangkan, di sejumlah daerah sedang terjadi kelangkaan solar
serta harga minyak sawit dunia sedang merosot.
”Peluang seperti
ini tidak pernah diperhatikan pemerintah untuk menciptakan regulasi
pengembangan energi terbarukan. Walaupun nilainya masih kalah dengan
harga solar bersubsidi, biosolar setidaknya mampu menyumbang pengurangan
emisi gas rumah kaca,” kata Deputi Kepala Badan Pengkajian dan
Penerapan Teknologi (BPPT) Bidang Teknologi Informasi, Energi, dan Material Unggul Priyanto, Rabu (1/5/2013), di Jakarta.
Unggul
mengatakan, harga sawit dunia sekarang diperkirakan mencapai Rp 7.000
per liter. Harga solar di tingkat dunia atau harga tanpa subsidi sekitar
Rp 10.000 per liter. Setidaknya, biosolar dari minyak sawit mampu
bersaing dengan solar tanpa subsidi.
Pemerintah saat ini juga
sedang memproses kenaikan harga bahan bakar minyak fosil bersubsidi
tersebut. Kenaikan harga yang dipatok masih di bawah Rp 6.500 per liter.
Menurut
Unggul, subsidi bahan bakar minyak fosil selama ini mengganjal
pengembangan produksi bahan bakar terbarukan. ”Bahan bakar terbarukan
lainnya seperti bioetanol jauh lebih tinggi biaya produksinya sehingga
masih sulit dikembangkan,” kata dia.
Saat ini, produksi sawit dari Indonesia
masih didominasi untuk kepentingan ekspor. Dari tingkat produksi yang
mencapai 24 juta ton, sekitar 18 juta ton diekspor dan selebihnya untuk
keperluan domestik.
Tiru Brasil
Menurut
Unggul, Indonesia dapat meniru Brasil dalam menghasilkan bahan bakar
terbarukan. Brasil memanfaatkan produksi tebu yang berlimpah untuk
memproduksi bioetanol, ketika harga gula dunia jatuh.
Model yang sama, kata dia, bisa diadopsi Indonesia, khususnya manakala harga sawit mentah jatuh. Saat itu dinilai momentum menggunakannya untuk produksi biosolar.
Selain
perlu mengoptimalkan manfaat sawit, pemerintah juga perlu didorong
mengendalikan area produksinya. Ilmuwan biologi Lembaga Ilmu Pengetahuan
Indonesia (LIPI), Endang Sukara, mengatakan, banyak perizinan area
produksi tanaman sawit menggunakan hutan primer.
”Indonesia masih
punya lahan terdegradasi 35 juta hektar. Ini yang semestinya digunakan
untuk perkebunan sawit, bukan di area hutan primer,” kata dia.
Endang
mengatakan, baru-baru ini, ia ditemui para investor sawit dari
Malaysia. Para pengambil kebijakan di tingkat pemerintah daerah
semestinya mengutamakan perizinan produksi sawit di lahan-lahan
terdegradasi atau lahan telantar. Bukan hutan primer atau kawasan
konservasi. (NAW)
Tidak ada komentar:
Posting Komentar