Bidang pendidikan sangatlah penting dan harus
diperhatikan, karena berdampak pada bidang-bidang yang lain. Masalah
kependidikan yang serius
dihadapi oleh negara berkembang khususnya yang dihadapi oleh Indonesia,
antara lain berkisar pada masalah mutu pendidikan, kesiapan tenaga
pendidik, fasilitas, dan lapangan pekerjaan. Dengan melihat masalah yang
terakhir yaitu, lapangan pekerjaan memiliki greget yang lain.
Kekurangtersediaan lapangan pekerjaan akan berimbas pada kemapanan
sosial dan eksistensi pendidikan dalam perspektif masyarakat.
Pada
masyarakat yang tengah berkembang, pendidikan diposisikan sebagai
sarana untuk peningkatan kesejahteraan melalui pemanfatan kesempatan
kerja yang ada. Dalam arti lain, tujuan akhir program pendidikan bagi
masyarakat pengguna jasa pendidikan, adalah mendapatkan lapangan kerja
yang diaharapkan. Atau setidak-tidaknya, setelah lulus dapat bekerja di
sektor formal yang memiliki nilai gengsi atau nilai yang lebih tinggi di
banding sektor informal.
Dengan
demikian, keterbatasan lapangan pekerjaan dapat menyebabkan tidak dapat
tertampungnya lulusan program pendidikan di lapangan kerja, secara linear
berpotensi terhadap anggapan masyarakat terhadap dunia pendidikan.
Masyarakat akan kehilangan kepercayaan secara signifikan terhadap
eksistensi lembaga pendidikan.
Lapangan pekerjaan merupakan
indikator penting tingkat kesejahteraan masyarakat dan sekaligus menjadi
indikator keberhasilan penyelenggaraan pendidikan. Maka merebaknya isu
pengangguran terdidik menjadi sinyal yang cukup mengganggu bagi
perencana pendidikan di negara-negara berkembang pada umumnya, khususnya
juga di Indonesia.
Secara
empiris telah terjadi kekurang-sepadanan antara Supply dan Demand
keluaran pendidikan. Dalam arti lain, adanya kekurangcocokan kebutuhan
dan penyediaan tenaga kerja, dimana hasil dari profil
lulusan merupakan akibat langsung dari perencanaan pendidikan yang
tidak berorentasi pada realitas yang terjadi dalam masyarakat.
Pendidikan dilaksanakan sebagai bagian parsial, terpisah dari konstelasi
masyarakat yang terus berubah. Pendidikan diposisikan sebagai mesin
ilmu pengetahuan dan teknologi, cenderung lepas dari konteks kebutuhan
masyarakat secara utuh.
Saat ini pemerintah juga mempunyai
program dalam dunia pendidikan, yaitu untuk SMK sebanyak 70% dan 30%
untuk SMU. Perubahan jumlah sekolahan ini terpicu data yang diperoleh di
lapangan bahwa pengangguran produktif kebanyakan adalah lulusan SMU.
Pada dasarnya SMU diprogram untuk mereka yang melanjutkan ke tingkat
yang lebih tinggi, sedangkan pembekalan skill (untuk SMU) bisa
dikatakan, tidak ada. Berbeda dengan dunia SMK, mereka dituntut untuk
menguasai skill serta diharapkan dapat menciptakan lapangan pekerjaan
sendiri.
SMK dapat menghasilkan lulusan yang berkualitas dari
segi keterampilan kerja, maka dari itu saat ini banyak perusahaan yang
membutuhkan lulusan dari SMK. Dinas Pendidikan telah menganjurkan untuk
lebih memilih SMK karena lebih menjanjikan dalam dunia kerja.
Dimasukkannya anak-anak ke sekolahan kejuruan adalah agar
siswa cepat mendapat pekerjaan selepas lulus, dengan bekal keterampilan
yang didapat dari sekolahan. Jadi, sebetulnya, sekolah kejuruan juga
berperan aktif dalam pengentasan kemiskinan yang ada di masyarakat,
dengan pembekalan keterampilan serta mempersiapkan siswa untuk dapat
mandiri.
Semakin banyaknya siswa yang belajar di sekolah kejuruan, semakin dapat ditekan pula angka kemiskinan yang ada
di masyarakat. Harapan semua pihak, terutama dunia pendidikan dan
pemerintah adalah siswa yang telah lulus dapat berwirausaha, sehingga
angka pengangguran dapat ditekan. Berkurangnya angka penganguran, maka
secara otomatis pendapatan masyarakat pun meningkat. Lebih lebar lagi,
dunia kriminalitas juga dapat ditekan.
Karena, pendidikan juga
sebagai salah satu faktor penekan angka kemiskinan, maka mari kita
bersama-sama memajukan dunia pendidikan di negara ini, baik masyarakat,
pemerintah dan swasta. Tanpa bersama-sama, dunia pendidikan kita akan
semakin ketinggalan dengan negara-negara lain.
Rencana akan
diperbanyaknya lulusan SMK dibanding SMU di Indonesia dan adanya
pengalihan sebagian SMU ke SMK di Malang, ternyata itu merupakan ide
bagus. Kenapa merupakan ide bagus, karena pada kenyataannya lulusan SMK
itu lebih siap bekerja dibandingkan dengan lulusan SMU. Pendidikan yang
digunakan di SMK lebih banyak menerapkan praktek serta mengandalkan
keterampilan dan mempunyai banyak jurusannya yang bisa dipilih sesuai
minat dan bakat keterampilan yang dimiliki. SMK itu juga bagus kok gak
kalah bagusnya dengan SMU.
Di Kota Malang terdapat SMU yang
beralih menjadi SMK, yaitu SMU menjadi SMK. Beralihnya SMU ke SMK di
Malang karena tuntutan dari masyarakat yang menginginkan putra-putrinya
memiliki keterampilan kerja dan masa depan yang lebih menjanjikan dan
dapat meringankan beban orang tua. Memang biaya yang dikeluarkan untuk
masuk di SMK lebih mahal karena biaya praktek dan keterampilannya.
Tetapi para orangtua memahami mahalnya biaya tersebut, karena
putra-putri mereka akan mempunyai kelebihan baik dalam segi skill atau
memiliki kemampuan untuk berwirausaha. Selain itu mereka juga bisa
sambil meneruskan kuliah pada waktu bekerja nanti. Tidak jarang banyak
perusahaan yang membutuhkan lulusan SMK dibanding lulusan SMU. Dan jika
memilih SMK harus memilih SMK yang sudah dipercaya dan berkualitas,
serta mempunyai banyak hubungan kerjasama dengan beberapa perusahaan dan
instansi lain.
Diharapkan bagi lulusan SMP agar lebih selektif
dalam memilih sekolah lanjutan terutama SMK, agar mereka memiliki
keterampilan kerja dan lebih bermanfaat untuk kehidupan kedepan. Dan
jika memilih SMK harus memilih SMK yang sudah dipercaya dan berkualitas,
serta mempunyai banyak hubungan kerjasama dengan beberapa perusahaan
dan instansi lain. Serta diharapkan pula pemerintah dapat mengembangkan
lagi kurikulum untuk SMK, sehingga nantinya lulusan SMK dapat lebih
berkualitas
Tidak ada komentar:
Posting Komentar